cerah melihat dunia
Beli Tema IniIndeks

Jejak Bung Karno di Sumenep Tak Boleh Dihapus, Banteng Sakera Nahdliyin Serukan Perlawanan terhadap Lupa Sejarah

DAPURPOS.COM, SUMENEP — Organisasi masyarakat Banteng Sakera Nahdliyin kembali menghidupkan memori sejarah atas kunjungan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, ke Kabupaten Sumenep pada 10 Mei 1951. Kunjungan tersebut dinilai memiliki makna besar bagi masyarakat Madura karena menjadi bagian dari perjalanan awal bangsa dalam memperkuat persatuan dan semangat nasionalisme setelah Indonesia merdeka.

Peringatan jejak sejarah itu juga menjadi upaya menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap peran Bung Karno di daerah. Banteng Sakera Nahdliyin menilai, lawatan Presiden Soekarno ke Sumenep bukan hanya agenda seremonial kenegaraan, melainkan simbol kedekatan pemimpin bangsa dengan rakyat di daerah.

Menurut Ketua Banteng Sakera Nahdliyin, Maryono, terdapat tiga titik penting yang menjadi bagian dari jejak kunjungan Presiden Soekarno selama berada di Sumenep.

Baca Juga :  Antusias Warga RT 004 Desa Pabian Gelar Gotong Royong Bersihkan Kali Marengan Sambut HUT ke-80 RI

Lokasi pertama adalah Masjid Gema yang berada di kawasan Prenduan. Berdasarkan cerita tutur masyarakat setempat, masjid tersebut diyakini pernah menjadi salah satu tempat yang disinggahi Bung Karno. Di area masjid itu juga disebut pernah berdiri Tugu Kemerdekaan sebagai simbol sejarah perjuangan bangsa, sebelum akhirnya berubah menjadi menara masjid.

“Masjid Gema menjadi bagian dari memori sejarah masyarakat. Ini menunjukkan bahwa Bung Karno tidak hanya hadir dalam agenda kenegaraan, tetapi juga dekat dengan kehidupan masyarakat dan nilai-nilai keagamaan,” ujar Maryono.

Lokasi kedua berada di kawasan Kota Tua Kalianget yang pada masa itu dikenal sebagai pusat industri garam di Madura. Kehadiran Bung Karno di wilayah tersebut dinilai sebagai bentuk perhatian pemerintah pusat terhadap potensi ekonomi rakyat, khususnya sektor garam yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat pesisir.

Baca Juga :  Pasangan Fauzi-Imam (FAHAM ) Nomer Urut 2 Mendapat Dukungan HSNI Sumenep

Sementara lokasi ketiga adalah Asrama Rehabilitasi Tentara Pejuang yang kunjungannya tercatat dalam Arsip Nasional Republik Indonesia tertanggal 10 Mei 1951. Lokasi asrama tersebut berada di Jalan Raya Lenteng, Kecamatan Batuan, atau di sekitar area Kantor SKB Sumenep saat ini. Kunjungan tersebut menjadi simbol penghormatan negara terhadap para pejuang pasca kemerdekaan.

Maryono menegaskan, peringatan jejak sejarah Bung Karno di Sumenep harus menjadi pengingat bagi generasi muda agar tidak melupakan sejarah daerahnya sendiri.

“Jejak Bung Karno di Sumenep bukan hanya cerita masa lalu, tetapi warisan sejarah yang mengajarkan tentang perjuangan, persatuan, dan cinta tanah air,” pungkasnya.

(adie/red)**

Tinggalkan Balasan