cerah melihat dunia
Beli Tema IniIndeks

Bhubpa’ Bhebbhu’ Guru Rato Falsafah Masyarakat Madura Yang Masih Sangat Relevan Dipergunakan

Sumenep, DapurPos.Com Orang Madura sampai saat ini masih dikenal dengan kultur budaya serta adat istiadat yang masih melekat dihati masyarakatnya. Ini semua terlihat dalam tradisi dan kebiasaan yang masih mereka lakukan sampai saat ini. Orang Madura lebih mengutamakan adab/akhlak daripada ilmu dalam bersosialisasi dengan masyarakat di sekitarnya.

Jadi kita tidak perlu heran lagi kalau orang Madura bisa diterima oleh kalangan masyarakat luas di negara ini. Orang Madura selalu berpegang teguh pada prinsip yang masih kokoh dalam menjalani kehidupan di kesehariannya, pada dasarnya orang madura tidak kuat dalam hal menanggung rasa malu atau di permalukan oleh orang lain, dan hal ini bisa menimbulkan terjadinya carok di antara mereka, sampai salah satuya ada yang meninggal dunia. Karena mereka masih berpegang teguh falsafah mereka lebih baik putih tulang daripada putih mata dalam bahasa maduranya, Bengo’ pote tholang kathembheng pothe mata.

Orang Madura khususnya Sumenep sangat menghargai kedua orang tuanya, Guru dan Rajanya. Apapun yang diperintahkan oleh mereka, pasti akan dituruti dan tidak pernah keluar ucapan untuk membantahnya. Sedari kecil orang madura sudah terdoktrin dari ajaran kedua orang tuanya, sehingga sangat sulit sekali untuk tidak mematuhinya.

Baca Juga :  Bupati Sumenep Soroti Sinergi Lintas Pemerintah untuk Swasembada Garam Nasional

Selain daripada itu, orang madura juga sangat taqdim terhadap para guru – guru mereka yang telah membuatnya bisa membaca dan menulis sehingga pintar serta menjadi orang sukses. Selain ilmu yang di ajarkan, para guru juga memberikan bekal pada muridnya yaitu adab dan akhlak yang baik. Hal itu diberikan sebagai bekal dalam menjalani hidup bermasyarakat.

Karena begitu taqdim dan hormatnya seorang murid terhadap gurunya, kadang hal ini di jadikan suatu kesempatan oleh oknum guru untuk berbuat yang tidak senonoh terhadap para muridnya.

Hal ini sudah seringkali terjadi di daerah ini, bahkan sesama pendidik (guru) juga terjadi perbuatan yang tidak semestinya mereka lakukan, karena kita semua tahu seorang guru/pendidik itu menjadi panutan bagi semua anak didiknya maupun masyarakat.

Baca Juga :  Lestarikan Budaya, Pemkab Sumenep Terapkan Aturan Wajib Pakai Baju Adat Keraton

Seorang guru itu di tuntut untuk selalu mawas diri serta menjaga nilai – nilai moral dan etika, karena mereka menyandang predikat yang melekat pada dirinya yaitu, “digugu lan di tiru”.

Selanjutnya dalam falsafah yang ke tiga yaitu, orang madura akan selalu tunduk patuh pada raja atau penguasa yang memimpin mereka, hal ini bisa kita lihat pada pribadi orang madura, karena tunduk dan patuh merupakan kewajiban yang harus mereka laksanakan. Hal ini juga merupakan hasil dari doktrin/nasehat orang tua terhadap anak – anaknya.

Orang madura (Sumenep) memang dikenal pintar dan cerdas dalam hal mendidik serta memberikan nasehat kepada anak – anaknya, karena apa yang di ajarkan/nasehatkan kepada anaknya itu semua bersumber dari Al Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Dan sampai saat ini falsafah Bhubpa’ Bhebbhu’ Guru Rato sangat relevan untuk kita gunakan dalam hidup bermasyarakat.***