Forum Nahdiyin Hijau (FNH) Gelar Halaqah di Aula Mini Universitas Annuqayah Guluk Guluk Sumenep

- Editorial Team

Kamis, 4 Juli 2024 - 22:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumenep, Dapurpos.com Kegiatan Halaqah ini dicetus oleh Yayasan Sataretanan Sumenep Berdaya bersama sejumlah komunitas dan organisasi, seperti Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Sumenep, B.A.T.A.N, Observe Madura, Gusdurian Sumenep, dan Berkah Bumi.

Dalam Kegiatan tersebut dihadiri oleh sejumlah kiai, aktivis dan warga nahdiyin dari Sumenep maupun luar daerah, dengan bertajuk “Menimbang Tambang Perspektif Fiqh dan Sosial Ekologi” . 

Pembina Yayasan Sataretanan Sumenep Berdaya KH. Mohammad Shalahuddin A. Warits dalam sambutannya mengatakan bahwa masalah tambang baik di lokal maupun nasional harus diperhatikan secara serius.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Diskusi ini merupakan sikap kritis kita terhadap PBNU yang kompromi terhadap pengelolaan tambang,” ucap Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa itu, Kamis (4/7/2024).

Pria yang akrab disapa Ra Mamak ini menuturkan bahwa konsesi tambang yang didapatkan PBNU memang bisa jadi strategi konservasi.

“Namun yang dikhawatirkan, dengan konsesi ini kita malah dijual. Dan kita hanya menjadi agen kerusakan,” imbuhnya.

Ra Mamak mengajak para kiai yang hadir dalam Halaqah ini untuk tegas dan menyampaikan aspirasinya kepada PBNU.

“Kita tidak boleh lagi bermain-main dan ragu-ragu dalam memberikan masukan kepada PBNU. Karena kita yang hadir di sini semuanya kiai NU dan dalam ekosistem pesantren,” bebernya.

Untuk itu, Ra Mamak meminta, kiai NU harus terus bersuara dalam menyikapi konsesi tambang yang sudah dikantongi PBNU.

“Jika ini tidak kita lakukan, maka pelayanan NU menjadi tidak eksistensial lagi. Karena kita yang seharusnya berada di garda terdepan dalam mendidik masyarakat,” paparnya.

Dia berharap, Merawat Jagat, Membangun Peradaban tidak hanya menjadi jargon PBNU di awang-awang.

“Kita harus punya isi dan materi dari apa yang kita gaungkan selama ini. Sehingga kita tidak menjadi bully-an,” pungkasnya.

Diketahui, hadir sebagai pemateri dalam Halaqah ini, Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Moh. Shohibuddin dan Peneliti Sajogyo Institut Eko Cahyono.

Baca Juga:  Bapenda Sumenep Studi Tiru e-SPPT ke Mojokerto, Mantapkan Transformasi Digital Pajak Daerah

Dari sekian pemateri dan para tokoh yang hadir sepakat bahwa dampak logis dari mekanisme pertambangan hendaknya diketuk-tularkan hingga menjadi kesadaran kolektif masyarakat. Dengan harapan, kita semua bisa saling menjaga dalam memperlambat pesatnya kerusakan ekosistem dan lingkungan kita.

Baca Juga:  Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumenep Ajak Masyarakat Pentingnya Membuang Sampah pada Tempatnya

Menurut Eko Cahyono selaku peneliti yang menjadi pemateri pada halaqah ini,

“belum ditemukan adanya penambangan yang berdampak baik terhadap kesejahteraan, kesehatan masyarakat dan lingkungan. Yang sering kita temukan adalah kehidupan yang semakin merana, terbuang dari habitat awal, kehilangan sejarah, budaya dan bahkan kehilangan spiritualitas hidup yang selama ini menjadi sumber nalar masyarakat”.

Sementara, Bagi Moh. Shohibuddin,Multi dimensi dampak (mafsadat) tambang telah jelas dan empirik (nyata), sedangkan “maslahat” nya, masih spekulatif (bisa iya bisa tidak)

Baca Juga:  Kelurahan Bangselok Kembali Gelar Kegiatan JJS Berhadiah Jutaan Rupiah Dalam Rangka Memperingati HUT Kemerdekaan RI Ke 79

Oleh karena itu, komunitas keagamaan jangan sampai menjadikan narasi agama sebagai alasan pembenar bagi kerja-kerja dunia yang cenderung destruktif terhadap mekanisme lingkungan yang memiliki logika tersendiri untuk berubah. Karena bisa saja agama akan menjadi anugerah atau bencana. Dalam interaksi sosial, agama sangat ditentukan bagaimana ia diperlakukan oleh para penganutnya, difahami bagaimana, digunakan untuk apa, dan yang terpenting, untuk membela siapa?.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel dapurpos.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sekjen APSI Sentil SPBU Kolor Sumenep, BBM Subsidi Jangan Sampai Dikuasai Pihak Tertentu
Inovasi Mahasiswa UA: Selada Tumbuh Subur di Atas Kolam Lele Annuqayah
Biaya Produksi Melonjak, Petani Tembakau Pasongsongan Keluhkan Kelangkaan BBM Subsidi.
Bappeda Sumenep Perketat Akuntabilitas Kinerja OPD, Pastikan Program Pembangunan Lebih Terukur dan Tepat Sasaran
Pesan Muharram dari Arif Firmanto: Bangun Sumenep dengan Spirit Hijrah dan Kebersamaan
BBM Langka, Harga Eceran Tembus Rp15 Ribu per Liter: Aktivis Desak Pemkab Sumenep Sikat Mafia dan Pengecer Nakal
Kelangkaan BBM Kian Parah, Pengendara di Sumenep Harus Keliling Cari Bahan Bakar
KSOP Kalianget Buka Diklat Pemberdayaan Masyarakat 2026, Cetak Generasi Maritim Unggul dan Bersertifikat
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 23:48 WIB

Sekjen APSI Sentil SPBU Kolor Sumenep, BBM Subsidi Jangan Sampai Dikuasai Pihak Tertentu

Senin, 7 September 2026 - 09:49 WIB

Inovasi Mahasiswa UA: Selada Tumbuh Subur di Atas Kolam Lele Annuqayah

Jumat, 3 Juli 2026 - 14:05 WIB

Biaya Produksi Melonjak, Petani Tembakau Pasongsongan Keluhkan Kelangkaan BBM Subsidi.

Jumat, 26 Juni 2026 - 14:22 WIB

Bappeda Sumenep Perketat Akuntabilitas Kinerja OPD, Pastikan Program Pembangunan Lebih Terukur dan Tepat Sasaran

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:39 WIB

Pesan Muharram dari Arif Firmanto: Bangun Sumenep dengan Spirit Hijrah dan Kebersamaan

Berita Terbaru