SUMENEP, DAPURPOS.COM — Proyek pengaspalan di atas jembatan penghubung antara Desa Mandala dan Pakondang Kecamatan Rubaru menuai sorotan publik. Pasalnya, pengaspalan tersebut dilakukan dalam masa pemeliharaan rutin, namun anggaran pembangunan jembatan penghubung dua desa tersebut disebut mencapai angka fantastis, yakni Rp2,4 miliar.
Dugaan publik pun bermunculan. Banyak warga mempertanyakan mengapa pengaspalan bisa dilakukan pada masa pemeliharaan rutin dengan anggaran sebesar itu. Mereka juga menyayangkan tidak adanya papan prasasti yang mencantumkan nama pelaksana serta jumlah anggaran yang digunakan, yang seharusnya menjadi bagian dari keterbukaan informasi publik.
Menanggapi hal tersebut,Salamet Supriyadi,ST, M.Si, Kepala Bidang Binamarga PUTR Kabupaten Sumenep memberikan penjelasan bahwa pengaspalan memang dilakukan dalam masa pemeliharaan karena terbatasnya dana yang tersedia.
“Jumlah dana terbatas, sehingga pengaspalan dilakukan pada masa pemeliharaan rutin. Panjang pengaspalan 8,8 meter dengan lebar 6 meter,” jelasnya.(09/04/25)
Ia juga menambahkan bahwa jembatan tersebut sebenarnya ditangani oleh Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN), sementara pihak PUTR Sumenep hanya berperan dalam pengusulan dan perencanaan.
“Untuk anggaran pemeliharaan tersebut memang belum kami SPJ-kan. Monggo, minggu depan bisa datang ke kantor untuk melihat lebih lanjut,” ujarnya.
Meski begitu, warga tetap berharap adanya transparansi dari pihak terkait, terutama terkait papan prasasti . Hal ini dianggap penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap pelaksanaan proyek infrastruktur di daerah.
Media Dapurpos.com mencoba mendalami Informasi tentang prsasti kepada warga sekitar jembatan mereka memberikan keterangan bahwa,
“seingat saya pak selesai pekerjaan prasasti belum ada, barusan yang terpasang “, jelas warga yang tidak mau disebut namanya.
(jar/red)**





