SUMENEP, DAPURPOS.COM – Dari ujung barat Kabupaten Sumenep, tepatnya di Kecamatan Pasongsongan, muncul sosok yang kiprahnya begitu dirasakan oleh para guru di wilayah tersebut. Ia adalah Agus Sugianto, S.Pd, seorang kepala sekolah yang dikenal luas bukan hanya karena kepemimpinannya, tetapi karena kepeduliannya yang besar terhadap kemajuan pendidikan dan kesejahteraan guru.
Sebagai Kepala SDN Panaongan III, Sekretaris KKKS Kecamatan Pasongsongan, dan Bendahara PGRI Cabang Pasongsongan, Agus menjalankan tugas-tugas formalnya dengan penuh tanggung jawab. Namun di balik rutinitas itu, ia juga menjadi penggerak yang menyalakan semangat kolaborasi di kalangan pendidik Pasongsongan, menjadikannya layak dijuluki sebagai “Lokomotif Pendidikan Pasongsongan.”
Agus memahami bahwa perubahan di dunia pendidikan tidak bisa dilakukan sendirian. Dari pemahaman itu, ia menggagas berbagai komunitas guru yang kini tumbuh menjadi wadah belajar, berbagi, dan saling menguatkan antarpendidik. Melalui ruang virtual dan pertemuan langsung, ia membangun jejaring yang hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.
Beberapa komunitas yang digerakkannya antara lain Komunitas Guru Penggerak Pasongsongan, Komunitas Guru PPG Pasongsongan, Komunitas Guru Master Bahasa Madura, Komunitas Guru Non K2, serta Komunitas Guru PAI yang kini telah bertransformasi menjadi KKG PAI Kecamatan Pasongsongan.
Menariknya, anggota Komunitas Guru PPG tidak hanya berasal dari Kecamatan Pasongsongan, tetapi juga dari luar wilayah, bahkan lintas kabupaten di Madura.
“Tujuan saya sederhana: ingin para guru punya wadah untuk silaturahmi dan saling berbagi pengalaman. Misalnya, yang sudah ikut PPG bisa membantu teman-temannya yang masih proses, agar tidak bingung,” ujar Agus ketika ditemui media di sela aktivitasnya di sekolah.
Dalam komunitas tersebut, para guru saling berdiskusi tentang berbagai hal, mulai dari pengisian lapor diri, penyusunan modul ajar, hingga pembuatan video pembelajaran. Ketika ada anggota yang mengalami kesulitan teknis, Agus atau guru lain akan segera turun tangan memberi solusi. Semangat kebersamaan inilah yang membuat komunitas-komunitas itu terus hidup dan berkembang.
Peran Agus juga begitu terasa saat para guru Non K2 menghadapi proses pendataan dan pemberkasan untuk PPPK paruh waktu. Banyak guru yang mengaku terbantu oleh arahannya. Ia memfasilitasi pertemuan, membantu menyusun berkas, dan memastikan tidak ada yang tertinggal informasi.
“Pak Agus itu orangnya luar biasa. Tidak hanya pintar, tapi juga peduli. Saat banyak guru bingung soal berkas PPPK, beliau yang menenangkan dan menunjukkan caranya satu per satu,” ungkap seorang guru Non K2 yang sudah lama mengenalnya.
Dengan blangkon sebagai ciri khas penampilannya, Agus dikenal tenang, santun, dan tidak banyak bicara. Namun di balik ketenangannya, ia adalah sosok pekerja senyap yang selalu bergerak untuk kemajuan. Ia tak mencari pujian, tapi kehadirannya selalu dirasakan.
Baginya, membangun komunitas bukan sekadar membuat grup percakapan, tetapi membangun ekosistem belajar bersama. Ia ingin para guru di Pasongsongan terbiasa saling menguatkan, tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
“Kalau guru saling membantu, pekerjaan jadi ringan. Ilmu juga lebih cepat berkembang,” tutur Agus dengan senyum khasnya.
Kini, hampir semua guru di Pasongsongan mengenal nama Agus Sugianto. Tidak hanya sebagai kepala sekolah, tetapi sebagai penggerak yang hadir di saat dibutuhkan. Sosok yang tidak menunggu diminta untuk menolong, tidak menunggu kesempatan untuk berbagi.
Dari ujung barat Sumenep, langkah-langkah kecil seorang Agus Sugianto telah menyalakan perubahan besar. Ia adalah bukti nyata bahwa kemajuan pendidikan bukan hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh ketulusan dan semangat berbagi dari para penggeraknya.
Dan di Pasongsongan, nama itu dikenal bukan karena jabatannya tetapi karena dedikasi tanpa pamrihnya. (RED).





