DAPURPOS.COM, SUMENEP — Upaya penguatan kesiapsiagaan bencana di tingkat desa kembali dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep melalui program Sapa Destana, sebuah rangkaian monitoring dan evaluasi khusus bagi desa yang telah ditetapkan sebagai Desa Tangguh Bencana (Destana).
Program ini menjadi bentuk tindak lanjut pembinaan agar sistem mitigasi dan kesiapsiagaan tidak berhenti setelah program awal berjalan. BPBD memastikan seluruh elemen kesiapsiagaan tetap aktif, berfungsi, dan mampu merespons situasi darurat kapan pun dibutuhkan.
Beberapa desa yang menjadi lokasi pelaksanaan Sapa Destana tahun ini yakni Desa Babbalan di Kecamatan Batuan, Desa Nambakor dan Desa Tanjung di Kecamatan Saronggi, serta Desa Kasengan di Kecamatan Manding.
Dalam pelaksanaannya, setiap desa dinilai melalui sejumlah indikator kunci, meliputi:
Keberlanjutan aktivitas relawan Destana
Fungsi kelembagaan penanggulangan bencana
Pembaruan dokumen risiko dan rencana kontinjensi
Keberadaan serta kondisi jalur evakuasi
Fasilitas darurat dan sarana prasarana pendukung
BPBD menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar kunjungan kerja, melainkan evaluasi menyeluruh yang menghasilkan data kesiapan desa secara nyata.
Melalui pelaksanaan program ini, BPBD Kabupaten Sumenep ingin memastikan 5 poin strategis:
1. Menilai kesinambungan program Destana setelah masa pembinaan.
2. Mengidentifikasi hambatan teknis maupun non-teknis yang dialami desa.
3. Mengukur tingkat kesiapan tim relawan dan kelembagaan dalam menghadapi bencana.
4. Memastikan dokumen kebencanaan desa tetap sesuai kondisi terbaru.
5. Menjadi dasar penyusunan agenda pelatihan lanjutan dan kebutuhan pembinaan berikutnya.
Dengan begitu, desa penerima program Destana tidak hanya siap secara administratif, tetapi juga responsif ketika bencana benar-benar terjadi.
Dampak Positif bagi Desa
Melalui Sapa Destana, desa memperoleh sejumlah manfaat langsung, seperti:
Peningkatan kewaspadaan dan respons masyarakat terhadap ancaman bencana.
Relawan tetap terlatih dan tidak kehilangan kompetensi dasar.
Sarana evakuasi dan jalur penyelamatan tetap terpelihara.
Perencanaan berbasis data terbaru, sehingga mitigasi lebih tepat sasaran.
Terbangunnya budaya sadar bencana di tingkat keluarga dan komunitas.
Program ini sekaligus menjadi penghubung antara pembinaan struktural BPBD dan dinamika kesiapsiagaan di lapangan.
Kepala BPBD Kabupaten Sumenep, Achmad Laili Maulidi, menegaskan pentingnya kegiatan ini sebagai upaya mengevaluasi kesiapan desa secara berkelanjutan.
“Pembentukan Destana itu baru permulaan. Yang lebih penting adalah menjaga agar desa tetap tangguh. Melalui Sapa Destana ini, kami memastikan relawan masih siap, dokumen masih berlaku, dan jalur evakuasi benar-benar bisa digunakan,” kata Laili.
Ia menambahkan, tanpa sistem monitoring, ada potensi penurunan kesiapsiagaan.
“Bisa saja desa melemah jika tidak dipantau. Karena itu, Sapa Destana menjadi alat ukur apa yang sudah baik dan apa yang perlu diperbaiki,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan Destana tidak hanya bergantung pada fasilitas teknis, melainkan peran aktif masyarakat.
“Ketangguhan desa bukan ditentukan BPBD saja. Keterlibatan warga adalah kunci. Kami ingin memastikan semua unsur,mulai perangkat desa hingga kelompok rentan—mengerti peran mereka saat bencana terjadi,” tegasnya.
Dengan pelaksanaan Sapa Destana, BPBD Sumenep berharap seluruh desa yang tergolong Destana tetap waspada, tangguh, dan mandiri dalam menghadapi berbagai potensi bencana hidrometeorologi maupun geologis yang dapat terjadi sewaktu-waktu.





