cerah melihat dunia
Beli Tema IniIndeks

Tunjukkan Sikap Arogan, Kepala SDN Duko 1 Abaikan Teguran Kabid PK Disdik Sumenep

Oplus_131072

SUMENEP- Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) Duko 1 kecamatan Arjasa Sumenep, menunjukkan sikap arogan dan mengabaikan teguran Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Dinas Pendidikan (Kabid PK Disdik) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Rabu (26/3/2025)

“Ketika ada pemberitaan permasalahan seperti di SDN Duko 1 ini, yang jelas kemaren kami juga memberikan teguran melalui pengawasnya,” ungkap Akhmad Fairusi Kabid PK Disdik Sumenep.

Sikap arogan yang ditunjukkan Yunus selaku kepala SDN Duko 1 kecamatan Arjasa, dalam bentuk ujaran menuding wartawan menganggap semua orang bodoh, dan merendahkan perusahaan media karena tidak terdaftar di dewan pers.

“Jangan anggap semua orang bodoh, salah satunya kamu, sementara medianya tidak terdaftar di dewan pers,” ujar Yunus kepala SDN Duko 1 Arjasa dalam rangkaian komunikasi pesan WhatsApp dengan rekan wartawan media ini, Senin malam (23/3).

Berdasarkan rangkaian komunikasi melalui pesan WhatsApp antara Yunus selaku kepala SDN Duko 1 kecamatan Arjasa, dengan wartawan rekan media ini dengan maksud dan tujuan konfirmasi terkait dugaan menghalangi tugas wartawan. Namun, Yunus memberikan kesan menunjukkan sikap arogan dalam bentuk ujaran yang mengandung unsur delik penghinaan terhadap wartawan, dan juga delik penghinaan kepada perusahaan media.

Ditemui awak media di ruang kerjanya, Akhmad Fairusi, S.Pd., M.A.P., Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep menyampaikan bahwa, media adalah mitra kita, disadari atau tidak disadari, media adalah corong kita.

“Itu saya sering sampaikan berkali-kali, itu sudah sering saya ucapkan, bukan hanya karena ada masalah ini (red, permasalahan kepala SDN Duko 1). Karena kami dinas pendidikan, apalagi saya yang pernah di Humas, jadi saya sangat berfikir bagaimana supaya bisa merangkul media, karena media ini menjadi corong,” kata Akhmad Fairusi.

Selain itu Akhmad Fairusi berharap bagaimana pemberitaan berimbang, dalam artian, ketika ada hal yang positif, bantu kami di Dinas Pendidikan dan sekolah juga beritanya positif.

“Ketika ada pemberitaan permasalahan seperti di SDN Duko 1 ini, yang jelas kemaren kami juga memberikan teguran melalui pengawasnya,” ungkapnya.

Lanjut Akhmad Fairusi mengungkapkan, kemaren saya dapat surat dari pengawasnya, ada pemanggilan laporan di Polsek Arjasa (red, Polsek Kangean), saya bilang; yaa..hadapi saja, dan kalau itu benar adanya..ya tetap proses hukum.

Baca Juga :  Ketua DPC Mabar Sumenep Kecam Dugaan Kekerasan terhadap Mahasiswa UIN Madura: “Kampus Bukan Arena Premanisme!”

Ditanya adanya kejadian seperti ini apakah bagian dari lemahnya sistem koordinasi, termasuk juga dengan teman-teman wartawan?

Akhmad Fairusi menjawab, setelah adanya berita di media itu, beberapa kali kami hubungi mereka (red, pengawas). Sebenarnya mereka itu ada rasa ketakutan-ketakutan, kekhawatiran-kekhawatiran. Mungkin mereka takut bukan karena ada salah, mungkin karena tidak biasa komunikasi dengan teman-teman media.

“Jadi pesan kami kepada teman-teman kepala sekolah, kami berharap tolong layani dengan baik teman-teman media. Karena media adalah mitra kita, jangan sampai ada bahasa yang menyinggung,” ujarnya.

Lebih lanjut Akhmad Fairusi mengajak, Ayo.. jalin komunikasi baik, kenapa? Karena melalui teman-teman media bisa membantu kami dalam memberitakan hal-hal yang positif terkait dunia pendidikan kita. Kalau tidak diimbangi dengan berita yang positif, dan itu tidak dilakukan oleh media, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kita sadar betul, media adalah corong kita, mitra kita. Jadi tolong kepada teman-teman kepala sekolah, jadikan media sebagai mitra kita.

“Jadi, layani media dengan baik, kalaupun nanti ada bahasa kurang enak dari media, sampaikanlah dengan santun. Kami, Dinas pendidikan dan teman-teman kepala sekolah itu benar-benar bisa bermitra dengan media,” harapnya.

Selanjutnya, terkait kejadian di ruang kepala sekolah Duko 1, setelah hari raya ini saya akan berangkat ke Arjasa, mengumpulkan lagi kepala sekolah, dan akan meminta kembali, jangan sampai ada kejadian yang sama.

“Karena saat ini mendekati hari raya, Saya tidak bisa berangkat. Tapi, Saya pastikan setelah hari raya saya berangkat ke Arjasa untuk menindaklanjuti permasalahan – permasalahan yang ada di Arjasa, khususnya di SDN Duko 1,” tegasnya.

Disinggung soal langkah penyelesaian karena nasi sudah menjadi bubur, menurut Akhmad Fairusi, jalan terbaik adalah islah atau tabayyun.

“Sebaiknya islah atau tabayyun, saling menyadari dan saling memaafkan, apalagi sebentar lagi kita lebaran Idul Fitri,” pungkasnya.

(man/red)**