Aku Selamat Karena Dia Bertahan: Kisah Ratna yang Kehilangan Suami Penyembuh Hidupnya

- Redaksi

Rabu, 3 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DAPURPOS.COM, Padang Panjang  Air mata Ratna Wati tak kunjung kering. Duduk di antara tumpukan barang bantuan di posko pengungsian Kantor Lurah Silaing Bawah, ia memeluk empat anaknya erat-erat seolah takut dunia kembali merenggut sesuatu dari hidupnya.

Usianya baru 32 tahun. Namun, beban hidup yang kini ia pikul terasa jauh lebih berat dari apa pun yang pernah ia bayangkan.

Banjir bandang yang menerjang Padang Panjang, Sumatera Barat, beberapa hari lalu bukan hanya meluluhlantakkan rumah dan harta benda tetapi juga merenggut dua orang terdekatnya: suaminya, Reki Saputra, dan kakak iparnya, Maryulis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kini, Ratna harus belajar menjalani hidup tanpa sosok yang selama ini menjadi pelindung dan penyemangatnya.

“Dunia Saya Hancur.”

“Dunia saya hancur luluh,” ucap Ratna dengan suara bergetar.

Baginya, kepergian Reki bukan hanya kehilangan seorang kepala keluarga tetapi juga sahabat, tempat bersandar, dan ayah terbaik bagi anak-anaknya.

“Rasanya baru kemarin kami bercanda, merencanakan masa depan untuk keempat anak kami,” katanya.

Tetapi kenyataan berkata lain ,masa depan yang mereka rencanakan kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup.

Detik Terakhir yang Menjadi Luka Seumur Hidup

Ratna masih mengingat jelas malam sebelum musibah datang, Rabu (26/11).

Reki pulang dengan wajah tegang berbeda dari biasanya.

“Ratna, cepat kemasi barang! Bawa anak-anak. Kita harus mengungsi malam ini juga,” katanya lirih namun tegas.

Awalnya Ratna bingung. Namun Reki meyakinkannya sungai di belakang rumah menunjukkan tanda bahaya.

Sebelum Ratna pergi bersama anak-anak, Reki memeluk mereka satu per satu dan mengucapkan kalimat yang kini menjadi kenangan terakhirnya.

“Selamatkan anak-anak. Saya pantau air di rumah.”

Ratna pergi. Reki tetap tinggal. Dan itu adalah terakhir kalinya ia melihat suaminya hidup.

Ketika banjir bandang menerjang, Reki tidak pernah meninggalkan rumah ia berjaga, memastikan keluarganya punya waktu kabur.

Namun air datang lebih cepat dari yang ia duga.

Tim pencarian menemukan jasadnya tak lama setelah kejadian. Ratna bahkan tidak bisa langsung melihat suaminya karena akses Padang–Bukittinggi terputus total.

Ia hanya bisa menangis dalam diam, memeluk anak-anaknya, menahan luka yang tak bisa dijelaskan kata.

Pemakaman Tanpa Persiapan, Tanpa Perpisahan Layak

Sabtu setelah Zuhur, Ratna harus merelakan dua orang tercinta dimakamkan tanpa sempat mengucap perpisahan yang semestinya.

Namun di balik duka itu, ada sesuatu yang membuatnya tetap bertahan. Mereka selamat karena Reki memilih tetap tinggal.

Sekarang Ratna Harus Menjadi Dua Peran.

Kini, Ratna bukan hanya seorang ibu.

Ia harus menjadi:

Ibu rumah tangga, dan Kepala keluarga, Sandaran emosional.serta sumber kekuatan bagi empat anak kecil.

Meski duka masih memenuhi dadanya, ia berusaha berdiri tegar.

“Saya hanya berharap Tuhan memberi saya kekuatan. Anak-anak sangat membutuhkan saya sekarang,” katanya sambil menatap empat buah hatinya dengan mata merah basah.

Harapan Terakhir: “Tolong Jangan Tinggalkan Kami Sendiri.”

Ratna berharap pemerintah dan masyarakat tidak hanya memberikan bantuan logistik, tetapi juga pendampingan psikologis, dukungan jangka panjang, dan perhatian kepada keluarga penyintas lain yang bernasib serupa.

“Saya tahu saya harus bangkit. Tapi saya tidak bisa melakukannya sendirian,” ujarnya pelan.

Untuk Reki, Sang Pahlawan Sunyi.

Di akhir percakapan, Ratna menatap langit mendung yang seakan ikut merasakan pedihnya.

Lalu ia berbisik perlahan, namun pasti terdengar jelas:

“Reki, suamiku, terima kasih sudah menyelamatkan kami. Tenanglah di sana. Anak-anak kita selamat. Perjuanganmu tidak sia-sia.”

Bencana boleh merenggut nyawa, tetapi cinta tetap hidup.

Dan di hati seorang perempuan bernama Ratna, cinta itu akan terus menuntun langkahnya melewati luka.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel dapurpos.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Biaya Produksi Melonjak, Petani Tembakau Pasongsongan Keluhkan Kelangkaan BBM Subsidi.
Bappeda Sumenep Perketat Akuntabilitas Kinerja OPD, Pastikan Program Pembangunan Lebih Terukur dan Tepat Sasaran
Pesan Muharram dari Arif Firmanto: Bangun Sumenep dengan Spirit Hijrah dan Kebersamaan
BBM Langka, Harga Eceran Tembus Rp15 Ribu per Liter: Aktivis Desak Pemkab Sumenep Sikat Mafia dan Pengecer Nakal
Kelangkaan BBM Kian Parah, Pengendara di Sumenep Harus Keliling Cari Bahan Bakar
KSOP Kalianget Buka Diklat Pemberdayaan Masyarakat 2026, Cetak Generasi Maritim Unggul dan Bersertifikat
KSOP Kalianget Aktif Dukung Wet Drill Evakuasi Medis Kru Kapal Pan Marine 14 di Blok Maleo
Prajurit Kodaeral IX Asah Kemampuan Tempur, Puluhan Personel TNI AL Ikuti Latihan Menembak di Maluku Tengah

Berita Terkait

Jumat, 3 Juli 2026 - 14:05 WIB

Biaya Produksi Melonjak, Petani Tembakau Pasongsongan Keluhkan Kelangkaan BBM Subsidi.

Jumat, 26 Juni 2026 - 14:22 WIB

Bappeda Sumenep Perketat Akuntabilitas Kinerja OPD, Pastikan Program Pembangunan Lebih Terukur dan Tepat Sasaran

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:39 WIB

Pesan Muharram dari Arif Firmanto: Bangun Sumenep dengan Spirit Hijrah dan Kebersamaan

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:05 WIB

BBM Langka, Harga Eceran Tembus Rp15 Ribu per Liter: Aktivis Desak Pemkab Sumenep Sikat Mafia dan Pengecer Nakal

Rabu, 24 Juni 2026 - 20:48 WIB

Kelangkaan BBM Kian Parah, Pengendara di Sumenep Harus Keliling Cari Bahan Bakar

Berita Terbaru

Berita

PBB-P2 Sumenep Murah, Diskon hingga 81 Persen

Jumat, 21 Agu 2026 - 13:01 WIB