SUMENEP, DAPURPOS.COM – Manager Keraton Langit Sumenep, Masyuni Ramadhan, S.M, menyuarakan keprihatinan sekaligus seruan moral kepada para pemangku kepentingan di Sumenep usai wafatnya Affan Kurniawan. Dalam pernyataan resminya, ia menegaskan bahwa suara rakyat tidak boleh dijawab dengan kekerasan.
“Suara rakyat jangan sampai dibalas dengan kekerasan, melainkan ditampung dengan kasih sayang dan kebijakan yang adil,” ungkapnya.(1/9)
Ramadhan mendorong DPRD Sumenep tampil dengan wajah baru: sederhana, merakyat, dan bebas dari citra kemewahan. Ia menawarkan gagasan “Rembug Sumenep” yang melibatkan ulama, tokoh masyarakat, mahasiswa, hingga buruh agar para wakil rakyat duduk sejajar dengan rakyat. Nilai-nilai kearifan lokal bhuppa’, bhabbu’, ghuru, rato ditegaskannya sebagai kompas moral dalam menjalankan amanah.

Kepada aparat kepolisian, ia menekankan bahwa polisi adalah pelayan rakyat, bukan simbol ketakutan. Polres Sumenep diharapkan menampilkan sikap ramah, sabar, bijak, serta mengedepankan dialog kultural berbasis falsafah Madura. “Jangan sampai perintah menjaga ketertiban justru menimbulkan luka sosial,” ujarnya tegas.
Bagi Pemkab Sumenep, ia mendesak agar bupati dan jajaran turun langsung ke masyarakat, bukan hanya memantau dari balik meja. Ia menekankan pentingnya dialog terbuka, penyampaian aspirasi rakyat ke pemerintah pusat, serta teladan kesederhanaan dan transparansi anggaran.
Tak hanya kepada pejabat, Ramadhan juga menyeru masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara damai: doa bersama, mimbar bebas, forum diskusi, tanpa merusak fasilitas publik.
“Gedung dan jalan yang kita rusak adalah milik kita sendiri. Jika kita merusaknya, kitalah yang paling dulu menanggung akibatnya,” pesannya.
Di akhir pernyataannya, Ramadhan menyampaikan harapan besar: agar Sumenep mampu menjadi pelita di tengah situasi bangsa yang gelap, dengan keberanian mendengar, keadilan, dan kebijaksanaan yang merangkul semua kalangan.




